Ageisme dilihat dari segala sudut
pandang apapun, dari cara dan pola pikir apapun, hampir dapat dipastikan
merupakan suatu cara pandang yang keliru dan salah. Bukan hanya
terbatas pada topik Ageisme, namun sejatinya semua bentuk pemikiran
stereotip kaku dan diskriminasi awam terhadap suatu individu maupun
kelompok adalah suatu kekeliruan cara pandang yang ironisnya masih
terpelihara dan ter-ajarkan dari generasi ke generasi.

Ageisme
yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan secara sederhana sebagai
diskriminasi yang berpatokan pada usia ( didasarkan pada jumlah
umur/usia suatu kelompok atau individu ). Para penganut Ageisme memiliki
suatu keyakinan, norma, bahkan nilai-nilai yang membenarkan mereka
untuk melakukan tindakan Prasangaka maupun diskriminasi terhadap
orang-orang yang mereka anggap sebagi objek dari cara pandang Ageisme.
Warga senior atau yang secara umum disebut sebagai “ Para Orang Tua “
adalah sasaran utama dari “ Pelecehan “ yang dilakukan oleh kaum
Ageisme. Warga Senior merupkan target utama dan menjadi objek euforia
terbesar dari para kaum penganut Ageisme untuk menyalurkan pola pikir,
pendapat, dan nilai-nilai abnormal mereka. Dalam Budaya Tradisional
Tionghoa ditekankan bahwa sebegitu pentingnya untuk melakukan bakti
kepada orang tua, saat para orang tua tidak berdaya setelah dimakan
usia disaat itulah golongan yang lebih muda dan lebih segar melindungi
mereka dan menentramkan hati mereka, menemani, menjalin komunikasi yang
baik, sehingga mereka para orang tua dapat menghabiskan sisa hidup
mereka dengan damai, tenang, dan bahagia.
Namun, pola pikir yang
sudah berakar selama ribuan tahun sejalan dengan lahirnya
filsafat-filsafat tradisional Tionghoa ini ditentang habis dan ditolak
seratus delapan puluh derajat oleh para kaum pemikir Ageisme.
Orang
Tua adalah sampah, dan sampah yang kotor harus segera dibersihkan.
Sampah hanya menggangu keserasian dan memperlambat kinerja. Demikianlah
para pemuja Ageisme.
Jika dilihat dan dicermati secara
logika, memang benar bahwa “ Ban mobil yang sudah rusak atau kempes
harus segera diganti karena jika tidak mobil tidak dapat difungsikan dan
bahkan juga dapat merusak kinerja optimal mobil tersebut.” Benar
apabila “ Pakaian yang sudah sobek dan tidak bisa diperbaiki lagi lebih
baik dibuang dan diganti dengan pakaian yang baru, yang lebih memiliki
daya fungsi.” Atau benar apabila “Kulit pisang harus segera dibuang
setelah buahnya dimakan karena jika disimpan berlama-lama akan
menimbulkan bakteri, bau tidak sedap, dan penyakit.” Tapi apakah
objek-objek yang disebutkan tadi sederajat dan berada dalam level yang
sama dengan manusia ?
Para pemikir Ageisme berkata “ Mereka sama,
dalam satu derajat dan strata. Mereka semua sampah. Tidak berguna, dan
harus dibuang.”
Pergeseran norma yang ada di benak para
kaum loyalis pro Ageisme didasari pada perkembangan logika yang begitu
dalam dan tinggi. Secara logika itu benar namun secara norma itu salah
besar ( saya yakin dalam norma apapun itu, kecuali dalam norma Ageisme
tentunya ).
Tetapi, uniknya para kaum pemikir Ageisme memiliki nilai-nilai serta norma-norma pribadi yang mendukung logika keliru mereka.
Fakta
yang berkembang di era dewasa ini dan agak mengagetkan adalah banyaknya
orang-orang ( sebagian besar tinggal di kota-kota besar terutama
penduduk metropolitan apalagi megapolitan ) yang menjadi pro Ageisme dan
mereka tidak mengetahui bahwa mereka merupakan penganut sekaligus
pendukung pola pikir yang megandung nilai-nilai ajaran Ageisme.
Kesibukan harian mereka membuat mereka senantiasa merasa “ Cukup “ untuk
menelepon atau memberi surat elektronik kepada para Warga Senior satu
tahun satu kali ( atau bahkan kurang dari itu ), dan merasa bahwa urusan
dan kesibukan mereka jauh lebih penting dibanding harus mengurus para
sampah yang “ Belum juga dibersihkan itu. “
Lebih jauh terlihat
bahwa para penduduk di era modern ini semakin tidak memperdulikan
orang-orang maupun keluarga mereka yang telah “ Pergi “ dengan
membiarkan lahan pemakaman mereka dijadikan objek tumbuh suburnya
tumbuh-tumbuhan kebun, tempat peristirahatan satwa-satwa liar, atau
bahkan di beberapa kondisi para warga sekitar-pun dengan leluasa
mendirikan patok untuk menjemur pakaian di areal pemakaman ( atau lebih
buruk dari itu ), tanpa adanya perhatian kongkrit dari keluarga sang
pemilik lahan pemakaman tersebut.
Apakah ini tidak cocok disebut
bagian dari Ageisme ? atau Apakah ini sama sekali bukan Ageisme tetapi
suatu pola pikir baru dan cara pandang baru dengan nama baru yang sangat
mendukung tumbuh pesat dan berkembangnya aliran-aliran pro Ageisme ?
Salahkah zaman karena dia berjalan terlalu cepat ?
Terlihat
agak mendramatisir, namun ini adalah cikal bakal atau bibit permulaan
awal berkembangnya pola pikir pro Ageisme yang bisa mengakar secara
konstan dalam karakter serta kepribadian para manusia modern terutama
kaum intelektual muda. Yang juga secara setahap demi setahap menjadi
landasan pakem atau logika normal sekelompok masyarakat tertentu, yang
semakin hari dapat semakin menerima dengan normal/biasa/kebiasaan/hal
biasa pola pikir yang sudah tergolong dalam pola pikir mutlak pro
Ageisme ini. Bahkan lebih berbahaya jika terus tersalurkan dan menjadi
dasar dari “ Ideal Thinking “ dari para generasi lanjutan di bawah kita.
Anda tidak bisa menyalahkan zaman apalagi memaksa-nya untuk berhenti sejenak.
Bicaralah pada hati nurani Anda.
Bandung, 11 Februari 2012
Angga Yeung (
楊舜耀 )