Minggu, 12 Februari 2012

PENOLAKAN AGEISME

Ageisme dilihat dari segala sudut pandang apapun, dari cara dan pola pikir apapun, hampir dapat dipastikan merupakan  suatu cara pandang yang keliru dan salah. Bukan hanya terbatas pada topik Ageisme, namun sejatinya semua bentuk pemikiran stereotip kaku dan diskriminasi awam terhadap suatu individu maupun kelompok adalah suatu kekeliruan cara pandang yang ironisnya masih terpelihara dan ter-ajarkan dari generasi ke generasi.


Ageisme yang dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan secara sederhana sebagai diskriminasi yang berpatokan pada usia ( didasarkan pada jumlah umur/usia suatu kelompok atau individu ). Para penganut Ageisme memiliki suatu keyakinan, norma, bahkan nilai-nilai yang membenarkan mereka untuk melakukan tindakan Prasangaka maupun diskriminasi terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagi objek dari cara pandang Ageisme. Warga senior atau yang secara umum disebut sebagai “ Para Orang Tua “ adalah sasaran utama dari “ Pelecehan “ yang dilakukan oleh kaum Ageisme. Warga Senior merupkan target utama dan menjadi objek euforia terbesar dari para kaum penganut Ageisme untuk menyalurkan pola pikir, pendapat, dan nilai-nilai abnormal mereka. Dalam Budaya Tradisional Tionghoa ditekankan bahwa sebegitu pentingnya untuk melakukan bakti kepada orang tua, saat para orang tua tidak berdaya setelah dimakan usia disaat itulah golongan yang lebih muda dan lebih segar melindungi mereka dan menentramkan hati mereka, menemani, menjalin komunikasi yang baik, sehingga mereka para orang tua dapat menghabiskan sisa hidup mereka dengan damai, tenang, dan bahagia.
Namun, pola pikir yang sudah berakar selama ribuan tahun sejalan dengan lahirnya filsafat-filsafat tradisional Tionghoa ini ditentang habis dan ditolak seratus delapan puluh derajat oleh para kaum pemikir Ageisme.
Orang Tua adalah sampah, dan sampah yang kotor harus segera dibersihkan. Sampah hanya menggangu keserasian dan memperlambat kinerja. Demikianlah para pemuja Ageisme.

Jika dilihat dan dicermati secara logika, memang benar bahwa “ Ban mobil yang sudah rusak atau kempes harus segera diganti karena jika tidak mobil tidak dapat difungsikan dan bahkan juga dapat merusak kinerja optimal mobil tersebut.” Benar apabila “ Pakaian yang sudah sobek dan tidak bisa diperbaiki lagi lebih baik dibuang dan diganti dengan pakaian yang baru, yang lebih memiliki daya fungsi.” Atau benar apabila “Kulit pisang harus segera dibuang setelah buahnya dimakan karena jika disimpan berlama-lama akan menimbulkan bakteri, bau tidak sedap, dan penyakit.” Tapi apakah objek-objek yang disebutkan tadi sederajat dan berada dalam level yang sama dengan manusia ?
Para pemikir Ageisme berkata “ Mereka sama,  dalam satu derajat dan strata. Mereka semua sampah. Tidak berguna, dan harus dibuang.”

Pergeseran norma yang ada di benak para kaum loyalis pro Ageisme didasari pada perkembangan logika yang begitu dalam dan tinggi. Secara logika itu benar namun secara norma itu salah besar ( saya yakin dalam norma apapun itu, kecuali dalam norma Ageisme tentunya ).
Tetapi, uniknya para kaum pemikir Ageisme memiliki nilai-nilai serta norma-norma pribadi yang mendukung logika keliru mereka.


Fakta yang berkembang di era dewasa ini dan agak mengagetkan adalah banyaknya orang-orang ( sebagian besar tinggal di kota-kota besar terutama penduduk metropolitan apalagi megapolitan ) yang menjadi pro Ageisme dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka merupakan penganut sekaligus pendukung pola pikir yang megandung nilai-nilai ajaran Ageisme. Kesibukan harian mereka membuat mereka senantiasa merasa “ Cukup “ untuk menelepon atau memberi surat elektronik kepada para Warga Senior satu tahun satu kali ( atau bahkan kurang dari itu ), dan merasa bahwa urusan dan kesibukan mereka jauh lebih penting dibanding harus mengurus para sampah yang “ Belum juga dibersihkan itu. “
Lebih jauh terlihat bahwa para penduduk di era modern ini semakin tidak memperdulikan orang-orang maupun keluarga mereka yang telah “ Pergi “ dengan membiarkan lahan pemakaman mereka dijadikan objek tumbuh suburnya tumbuh-tumbuhan kebun, tempat peristirahatan satwa-satwa liar, atau bahkan di beberapa kondisi para warga sekitar-pun dengan leluasa mendirikan patok untuk menjemur pakaian di areal pemakaman ( atau lebih buruk dari itu ), tanpa adanya perhatian kongkrit dari keluarga sang pemilik lahan pemakaman tersebut.
Apakah ini tidak cocok disebut bagian dari Ageisme ? atau Apakah ini sama sekali bukan Ageisme tetapi suatu pola pikir baru dan cara pandang baru dengan nama baru yang sangat mendukung tumbuh pesat dan berkembangnya aliran-aliran pro Ageisme ?
Salahkah zaman karena dia berjalan terlalu cepat ?

Terlihat agak mendramatisir, namun ini adalah cikal bakal atau bibit permulaan awal berkembangnya pola pikir pro Ageisme yang bisa mengakar secara konstan dalam karakter serta kepribadian para manusia modern terutama kaum intelektual muda. Yang juga secara setahap demi setahap menjadi landasan pakem atau logika normal sekelompok masyarakat tertentu, yang semakin hari dapat semakin menerima dengan normal/biasa/kebiasaan/hal biasa pola pikir yang sudah tergolong dalam pola pikir mutlak pro Ageisme ini. Bahkan lebih berbahaya jika terus tersalurkan dan menjadi dasar dari “ Ideal Thinking “ dari para generasi lanjutan di bawah kita.

Anda tidak bisa menyalahkan zaman apalagi memaksa-nya untuk berhenti sejenak.
Bicaralah pada hati nurani Anda.

        Bandung,  11 Februari 2012

          Angga Yeung ( 楊舜耀 )

1 komentar:

  1. 我第一次的文章了。
    Tulisan Pertama saya, 11 Februari 2012.

    BalasHapus